Headlines News :
Showing posts with label kajian. Show all posts
Showing posts with label kajian. Show all posts

Fiqih Puasa : Sunnah - sunnah Saat Melakukan Ibadah Puasa


4newstimes.com - Yang dimaksud dengan sunnah puasa adalah segala perbuatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad s.a.w (disunnahkan) ketika sedang melakukan ibadah puasa, diantaranya:
Pertama, Menyegerakan Berbuka Puasa Ketika waktu magrib telah tiba atau waktu diperbolehkannya untuk berbuka puasa bagi semua muslim yang menjalankannya, maka dianjurkan untuk segera berbuka puasa didahulukan dari pada menjalankan ibadah-ibadah yang lainnya, termasuk diantaranya menjalankan ibadah sholat maghrib.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوااْلفِطْرَ. 
Diceritakan dari Sahal Ibn Sa’ad, Rasulullah s.a.w, bersabda:”manusia selamanya dalam kebaikan, selama ia menyegerakan berbuka puasa” (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Kedua, Membaca Do’a Berbuka Puasa. Membaca do’a berbuka puasa sebelum membatalkan puasa itu perbuatan yang dianjurkan oleh nabi Muhammad s.a.w, sebagai mana sabdanya:

عَنِ ابْنِ عَمْرٍ كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اَفْطَرَ قَالَ اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمْاءُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ 

Diceritakan dari Ibnu Umar; Rasulullah s.a.w, apabila berbuka buasa, ia berdo’a: “wahai Tuhanku, karena Engkau aku berpuasa, dan atas rizkimu aku berbuka, maka sirnahlah rasa dahaga dan urat-uratku sekarang jadi basah, dan semoga pahala puasanya tetap kalau Engakau menghendaki. (Hadits Shahihm riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Ketiga, Berbuka dengan Makan Buah Kurma atau Minum Air Putih. Berbuka puasa diawali dengan memakan buah kurma, dan apabila tidak menemukan buah kurma atau tidak memilikinya, maka dianjurkan untuk meminum air putih terlebih dahulu sebelum memakan dan minum yang lainnya.

عَنْ اَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ اَنْ يُصَلِّيَ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمْرَاتٍ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ 
Dari Anas r.a; “Nabi s.a.w, apbila ia berbuka puasa denga kurma gemading, sebelum Beliau shalat, apabila tidak ditemukannya, ia berbuka dengan kurma biasa, kalau tidak ditemukannya, Beliau berbuka dengan beberapa teguk dari air putih”. ( Hadits Shahih, riwayat Abu Daud dan al-Tirmidzi)
Keempat, Makan Sahur Sesudah Tengah Malam. Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketika puasa.
عَنْ اَنَسٍ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَسَحَّرُوا فَاِنَّ فِى السُّحُوْرِ بَرَكَةٌ 
Dari Anas r.a; Rasulullah s.a.w, bersabda: “makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terkandung berkah”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Kelima Mengakhirkan Sahur.  Sahur atau memakan sesuatu di malam hari dengan tujuan memperkuat diri untuk dapat menjalankan ibadah puasa keesokan harinya, maka dianjurkan mengakhirkannya sebelum waktu shubuh tiba.

عَنْ اَبِي ذَرٍّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزَالُ اُمَّتِي بِخَيْرٍ مَااَخَّرُوا السَّحُوْرَ وَعَجَّلُوْا اَلْفِطْرَ 
Dari Abu Dzar r.a: Rasulullah s.a.w, bersabda: tidak akan hilang sifat kebaikan pada diri manusia, selama ia mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka puasa”. (Hadits Shahih, riwayat Ahmad)
Keenam, Meninggalkan Perkataan Jelek dan Jorok. Di saat menjalankan ibadah puasa, seorang muslim dianjurkan untuk tidak berkata-kata yang tidak bermanfaat, apalagi perkataan jelek dan jorok. Semisal berbohong, menghina orang lain, menggunjing kejelekan orang lain, memfitnah orang lain dsb.
Dan apabila ia dicaci maki oleh orang lain, maka ia dianjurkan untuk mengatakan “saya sedang berpuasa” sampai dua, tiga kali ucapan, menurut Imam Nawawi dalam kitab adzkarnya. Sedangkan menurut Imam Rafi’i, ia dianjurkan untuk mangatakannya dalam hati saja sebagai pengingat agar tidak terpancing emosi.

Redaktur : Gilang Ramadhan
Penulis : KH.Syaifullah
Sumber : www.nu.or.id

Hikmah Kematian Yang Berujung Hidayah




















4newstimes.com - Sahabat, banyak jalan orang medapatkan hidayah atau mendapatkan jalan kembalinya menuju Allah Subhanahu wata’ala. Ada di antara mereka yang mendapatkan hidayah setelah mendapatkan peringatan-peringatan. Ada juga yang mendapatkan hidayah setelah mereka menerima berbagai macam cobaan atau ujian yang ditimpakan kepada mereka. Ada pun orang yang mendapatkan hidayah dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada orang-orang terdekat yang ada di sisi mereka, sehingga mendapatkan faidah ataupun mereka mendapatkan pelajaran dari apa yang terjadi pada orang yang terdekat di sisi mereka. Berikut ini adalah kisah tentang seseorang yang mendapatkan hidayah karena kematian saudarinya yang tercinta.
Nuroh, saudariku, wajahnya tampak pucat dan kurus sekali, tetapi seperti biasa ia masih membaca Al Quranul Karim. Jika engkau ingin menemuinya, pergilah ke tempat shalat khusus atau musholanya. Disana engkau akan mendapati ia sedang ruku, sujud, atau ia sedang menengadahkan tangannya ke arah langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore, dan di tengah malam hari, seolah tak pernah jenuh. Berbeda dengannya, aku yang adalah saudari kembarnya selalu asik membaca majalah-majalah seni. Tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tidak pernah beranjak dari depan televisi, bahkan aku sudah identik dengan benda seperti ini. Setiap acara televisi diputar pasti di situ ada aku. Karena kesibukanku ini, banyak kewajiban yang tak bisa ku selesaikan, bahkan aku sampai meninggalkan shalat.
Setelah tiga jam berturut-turut menonton siaran televisi di tengah malam. Aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Aku pun segera kembali ke tempat tidurku, tetapi Nuroh, saudari kembarku, memanggilku dari musholahnya. Dengan segera aku menghampirinya.
Ku tanyakan ”Ada apa Nuroh?”
”Jangan tidur sebelum shalat Subuh, Saudariku.” Ia mengingatkanku.
”Ah, shalat Subuhkan masih satu jam lagi. Yang baru kita dengarkan baru adzan pertama.”
Begitula ia selalu penuh perhatian kepadaku. Sering member nasehat sampai akhirnya ia terbaring sakit, tergeletak lemah di tempat tidurnya.
”Hana… Hana….” Panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu untuk menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.
”Ada apa Saudariku?”
”Duduklah sebentar”
Aku menurut dan duduk di sisinya. Suasana saat itu sangat hening. Sejenak kemudian Nuroh melantunkan ayat suci Al Quran dengan suaranya yang merdu.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Tiap-tiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu” [1]
Ia terdiam sebentar, lalu bertanya kepadaku,
”Apa kamu tidak percaya dengan adanya kematian?”
Aku tersentak kaget dengan pertanyaannya, dan kujawab,
”Tentu saja aku percaya Saudariku.”
”Apa kamu tidak percaya… bahwa amalmu kelak akan dihisab Baik yang besar maupun yang kecil?”
”Percaya… Nuroh..  percaya, aku percaya sekali. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang? Sementara kita masih hidup dan masih bisa memohon ampunan-Nya”
Ia pun tersenyum kemudian berkata,
”Saudariku….. apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba itu. Apakah engkau tidak pernah mengalami…  ketika Hindun, teman kita yang lebih muda dari kita, tetapi meninggal duluan karena sebab kecelakaan. Dan pula teman-teman yang telah mendahului kita… Saudariku… kematian itu tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang.”
Aku terdiam, aku menjawabnya dengan penuh ketakutan. Suasana musholanya yang gelap mencekam semakin menambah rasa takut yang menyelimutiku.
”Nuroh… kau tau aku takut dengan gelap. Bagaimana engkau menakuti lagi dengan kematian? Bagaimanakah aku akan tidur malam ini?”
Tampak jiwa asliku yang penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri dan aku berusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan yaitu rencana rekreasi keluarga tahun ini. Aku memancingnya,
”Saudariku, apakah engkau setuju pada liburan tahun ini kita kan berekreasi bersama-sama.”
Nuroh terdiam, kemudian menjawab,
”Tidak… aku tidak akan ikut…, karena barang kali tahun ini aku akan pergi jauh…. ke tempat yang jauh. Yah… mungkin. Umur ada di tangan Allah, Saudariku.”
Suara itu bergetar dan aku pun menangis. Aku ikut hanyut dalam kesedihannya. Sekejap langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang sangat ganas. Para dokter di rumah sakit secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah kami. Menurut analisa medis, para dokter sudah tidak sanggup lagi. Dan itu berarti dekatnya dengan kematian Nuroh. Tetapi siapa yang mengabarkan kabar ini kepadanya? Apakah ia merasa sudah datang waktunya sebentar lagi.
”Mengapa termenung Hana? Apa yang engkau renungkan?”, katanya dengan suara agak keras.
”Apakah kau mengira aku katakan ini karena aku sedang sakit?”
”Tidak, Saudariku.”
”Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari orang-orang sehat.”
”Dan kamu sampai kapan akan bertahan hidup? Mungkin kah dua puluh tahun lagi? Empat puluh tahun lagi? Atau… berapa tahun lagi? Lalu setelah itu apa, Saudariku?”
Dalam kegelapan, tangannya ku raih dan ku genggam dengan erat. Kami memang berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke surga atau ke neraka.
”Hana, apakah kamu belum pernah mendengar ayat,

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

’Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah sukses’[2], itulah kesuksesan sejati, sampai jumpa besok pagi saudariku. Aku akan istirahat”, katanya sambil menutup nasehatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasehatnya masih terngiang-ngiang di gendang telingaku. Kata-kata terakhirnya ”semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat”.
Jam delapan pagi terdengar pintu kamarku diketok dengan keras dari luar. Aku pun menjadi heran dan kaget.  Ada apa ini? Padahal jam segini biasanya aku belum mau bangun, tetapi di luar terdengar suara gaduh. Orang-orang banyak terisak tangis. Aku pun menjadi khawatir.
”Apa yang terjadi? Mungkinkah Nuroh?”, firasatku berbicara.
Dan ternyata benar, Nuroh pingsan. Ayah kami segera melarikannya ke rumah sakit. Tak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nuroh yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.
Tepat pukul satu siang, ayah kami menelepon dari rumah sakit. Ia mengatakan bahwa kami boleh menjenguknya sekarang, dan hendaknya bersegera datang. Kata ibu tampak ayah sangat panik ketika menelepon. Bahkan suara nadanya berbeda dari biasanya. Kami semua terburu-buru. Kami menyuruh supir membawa mobil dengan cepat. Bila jalan yang dilewati biasanya terasa amat dekat saat liburan, kini terasa amat panjang. Panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya aku nanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke kanan dan ke kiri mencuci mataku, kini terasa menyebalkan. Sementara di sampingku, ibu senantiasa berdoa untuk keselamatan Nuroh. Ia bergumam sendirian dengan doanya.
”Ya Allah, dia anakku yang shaleh dan taat. Ia tak pernah menyianyiakan waktunya. Ia begitu rajin beribadah. Ya Allah, rahmati dia.”
Kami pun turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Pasien tergeletak di mana-mana. Terdengar suara ririhan dan rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil. Ada yang matanya buta. Ada yang mengerang keras. Tidak diketahui apakah meraka akan hidup atau akankah mati. Pemandangan yang seolah-olah membuat bulu kudukku merinding. Kami naik tangga menuju lantai atas. Seorang perawat berkata bahwa Nuroh berada di ruangan intensif. Perawat itu menyampaikan bahwa kondisinya baik-baik saja sampai saat ini. Akhirnya ibu pun merasa agak tenang setelah berhhasil melewati masa kritis yang terjadi padanya.
Di depan pintu terpangpang papan peringatan ”Tidak Boleh Masuk Lebih dari Satu Orang” di tengah kerumunan para dokter yang merawat. Dari sebuah jendela kecil yang ada di pintu, aku melihat ke dua bola mata Nuroh sedang memandangiku sementara ibu berdiri di sampingnya. Dua menit kemudian ibu keluar dari ruang perawatan intensif itu dengan tak kuat menahan air matanya. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tak banyak mengajaknya bicara. Aku hanya diberi waktu dua menit.
Aku masuk ke ruangannya. Kutanyakan pertanyaan-pertanyaan,
”Bagaimana keadaammu wahai Saudariku? Apakah semalam engkau baik-baik saja? Apa yang terjadi denganmu Nuroh?”
Dengan berusaha tersenyum ia menjawab,
”Alhamdulillaah, aku sekarang baik-baik saja.”
”Tapi mengapa tanganmu dingin sekali Nuroh? Kenapa?”, aku berusaha menyelidikinya.
Aku duduk di pinggir dipan, lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku.
”Maaf, aku tak bermaksud mengganggumu, Saudariku.”
Nuroh berkata,
”Tidak apa-apa, aku hanya ingat firman Allah Subhanahu wata ’ala,

وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ , إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

’Dan bertaut betis kiri dan betis kanan, kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau’.”[3]
Dengan suara pelan lagi ia berkata,
”Hana, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadapnya. Mungkin aku segera mengawali hari pertamaku dalam kehidupanku di akhirat. Perjalananku amat sangat jauh, tapi bekalku sedikit sekali. Berdoalah untukku saudariku.”
Pertahananku runtuh, air mataku tumpah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku terus-menerus menangis sampai keluargaku menghawatirkan keadaanku sebab mereka tidak pernah melihatku menangis seperti itu.
Akhirnya bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu, Nuroh meninggal dunia.
Suasana di rumah kami digayuti duka yang amat dalam. Sungguh mencekam, lalu terpecah oleh tangisan yang mengaharu biru. Sanak tetangga dan kerabat berdatangan berziarah dan bertakziah. Sementara aku tak bisa membedakan lagi siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapkan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri.
”Ya Allah, bagaimana dengan diriku. Apa yang bakal terjadi pada diriku jika apa yang dilalui Nuroh terjadi padaku.”
Aku tak kuasa lagi, meski sekedar untuk menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya. Kini, tiada yang ku ingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah subhanahu wata’ala yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya,
”Dan bertaut betis kiri dan betis kanan”, kini aku paham ”kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau” adalah tanda bahwa kematian Nuroh sudah dekat.
Aku tidak tahu bahwa ternyata malam itu adalah malam terakhir aku menjumpainya di tempat shalat khususnya. Terbayang kembali saudari kembarku, Nuroh, yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku. Ikut memahami dan merasakan kegalauanku. Saudari yang selalu mendoakanku agar aku mendapatkan hidayah Allah. Saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasehatiku tentang kematian.
”Ya Allah, malam ini adalah malam pertama bagi Nuroh di kuburnya. Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah ini adalah mushaf Al Quran Nuroh, ini sajadahnya, dan ini adalah baju, baju yang katanya bakal dipakainya pada saat pernikahannya nanti.”
Aku menangisi hari-hariku yang telah berlalu dengan kesia-siaan. Aku menangis terus-menerus tak bisa berhenti. Aku berdoa kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendoakan Nuroh supaya mendapatkan ketenangan dan keteguhan di kuburnya sebagaimana ia suka dan sering mendoakanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku. Lalu bagaimana dengan kesudahanku. Aku tak berani mencari jawabannya. Ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi.
Adzan fajar pun berkumandang. Tetapi aduhai, alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku menjawab suara muadzin lalu segera aku hamparkan lipatan sajadah. Selanjutnya aku shalat subuh. Aku shalat seperti orang-orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pernah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku, Nuroh. Jika datang waktu pagi, aku tidak akan menunggu waktu sore. Dan jika tiba waktu sore, aku tidak akan menunggu waktu pagi.
”Ya Allah terimalah taubatku”


[1] Al Quran Surat Ali ‘Imran ayat 185
[2] Al Quran Surat Ali ‘Imran ayat 185
[3] QS. Al Qiyaamah (75): 29
Redaktur : Gilang Ramadhan
Sumber: MyHalaqoh Wordpress

Perjalanan Dakwah


4newstimes.com - Dakwah berasal dari kata akar da’a yad’u wa da’watan yang terdiri dari tiga huruf dal,’ain dan alif. Apabila ditukar kepada masdar (kata terbitan) ia berubah menjadi (dakwah). Artinya adalah seruan,panggilan, ajakkan dan segala kata yang semakna dengan itu. Di dalam kamus bahasa “ da’wah” ialah panggilan untuk berhimpun,mengajak makan dan minum atau dorongan ke arah mengikuti mana-mana cara,jalan,aliran atau yang seperti dengannya. Di dalam al-Quran dakwah dinisbahkan kepada dakwah ilallah yang bermaksud dakwah yang kita serukan itu mengajak manusia menuju ke arah pengabdian diri kepada allah. Dengan lain kata dakwah itu adalah proses tahawwul wa taghayyur. (Merubah  & menukar )

Sebelum membicarakan persoalan Quantum Dakwah dan Tarbiyah elok kita mencermati dan memahami beberapa perkara berkaitan dakwah agar keaslian dakwah yang kita warisi ini diperkukuhkan, inovasi dan kreativiti dakwah dikembangkan.
Hakikat Pertama : Mafhum Dakwah
Syeikh Dr. Taufik al-Wa’ei mendefinisikan bahawa “dakwah ialah proses menghimpunkan manusia di atas kebaikan dan membimbing mereka mengenali kebenaran dengan melaksanakan manhaj Allah di atas muka bumi secara lisan dan praktikal, menyeru mereka melaksanakan makruf dan mencegah kemungkaran, memandu dan memimpin mereka ke jalan lurus dan bersabar serta berpesan-pesan dengan kesabaran dalam melaksanakan tanggungjawab dakwah”.
Dalam definisi ini ada beberapa pokok penting yang boleh dibuat rumusan iaitu :
  1. Dakwah adalah proses tajmik, irsyad dan qiyadah. ( kumpul,bimbing dan pimpin ). Bererti dakwah tidak terhenti dengan proses penyampaian tetapi menuntut kepada takween ( pembentukan)
  2. Dakwah adalah proses mengeluarkan manusia dari batil menuju kepada al-haq( kebenaran).Dan ini mendefinisikan dakwah adalah proses merubah manusia dari buruk kepada baik kepada lebih baik.
  3. Visi dakwah ialah memastikan pelaksanaan  manhaj allah di muka bumi dan peneguhannya.
  4. Tabiat dakwah memerlukan kesabaran dan sentiasa tawasi bis sabr sebagai indikator kejayaan dakwah. Tanpa sabar tidak mungkin dakwah akan dimenangkan.
  5. Dakwah ialah proses penegakan makruf dan pembasmian mungkar. Ruang kemakrufan dibesarkan dan ruang kemungkaran dihilang.
  6. Dakwah itu melibatkan dua pihak iaitu pelaksana dakwah ( Dai’e) samada secara individu atau jamaah dan sasaran dakwah ( mad’u) yang terdiri dari pelbagai lapisan masyarakat mengunakan uslub tertentu bagi mencapai objektif dakwah.
Hakikat Kedua : Dakwah berdiri di atas Fiqh
Dalam melaksanakan proses dakwah kita memerlukan fiqh ( kefahaman). Ini yang kita namakan sebagai fiqh dakwah.Di dalam tajuk fiqh dakwah dari himpunan Risalah al-‘Ain  penulis memberikan dua maksud Fiqh Dakwah iaitu :
  1. Kefahaman yang mendalam terhadap hukum syarak yang bersifat amali yang di ambil dari dalil-dalil tafsili dengan tujuan untuk menarik manusia beriman kepada allah, apa yang dibawa oleh para rasul, membenar dan mentaati segala perintahnya.
  2. Kajian kaedah dan asas ilmu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan allah.
Dari mafhum ini, fiqh dakwah ialah kajian berkaitan kewajipan dakwah,amal jamaie, ciri-ciri jamaah islam,asas-asas Islam, hudnah,harb,tahaluf, piagam amal jamaie,sejarah harakah, pendirian dan ijtihad dalam isu-isu siasi dan sosial, polisi-polisi gerakan islam, manhaj, landasan, tujuan, kandungan, sasaran, strategi, metod, intipati dan segala sesuatu yang secara mutlak termasuk di dalam istilah manhaj dakwah.Termasuk juga dalam kerangka fiqh dakwah ialah menguasai pengurusan dakwah dan siasah dakwah.Muhammad Ahmad Ar-Rasyid di dalam al kitab Maasar membahagikan siasah dakwah kepada tiga iaitu siasah Kharijiah,siasah dakhiliyyah dan siasah tarbawiyah.
Fiqh Dakwah merupakan salah satu cabang ilmu yang diakui muktabar kerana tanpanya operasi dakwah tidak dapat dijayakan dengan cemerlang,kurang interaktif dan ramai manusia lari dari seruan dakwah.Kepentingan menguasai fiqh dakwah adalah sama penting kita menguasai fiqh al-ahkam.
Syeikh Jum’ah Amin telah menulis buku Fiqh Dakwah yang boleh kita jadikan rujukan dalam memahami perkara berkaitan dakwah. Begitu juga tulisan Dr. Abdul Karim Zaidan ( Usul Dakwah), buku- buku Fathy Yakan, Maududi (Tazkiratud-duat),Mustafa Mahsyur , silsilah Ihya Fiqh Dakwah ( Muhammad Ahmad Ar-Rasyid), tulisan Yusuf al-Qardawiy ( as-sohwah islamiah),silsilah Mamaratul Haq, Rasail al-‘Ain, Fi Dzilal,Majmuah Rasail, Hudhaibi ( duat la qudat),Syeikh Jasim Muhalhil ( lil du’at faqat / addakwah islamiah),El- Bahi El-Khauli (Tazkirat Duat ), Muhammad Abu Faris dan lain-lain lagi.
Menguasai fiqh dakwah bermaksud kita perlu juga menguasai fiqh syarak dan memantapkannya dengan menguasai fiqh sunan, fiqh maqasid, fiqh muwazanat, fiqh awlawiyat,fiqh ikhtilaf,fiqh waqi’. Ustaz Anis Matta menyatakan fiqh dakwah adalah metodologi untuk mempertemukan kebenaran dengan ketepatan.
Fiqh dakwah berdiri di atas ilmu syarak, landasan-landasan usul fiqh dan kaedah-kaedah fiqhiyah untuk memastikan tujuan syarak dilaksanakan dengan  mengambil kira dharuriyat, hajiyat dan tahsinat.Perlu ada daurah-daurah pemantapan ulum syariyah kepada para kader dakwah kerana manhaj dakwah kita adalah manhaj salafussolih, manhaj arrasul dan bersifat rabbani.
Hakikat Ketiga : Visi dan Misi Dakwah
Visi dakwah kita ialah memastikan terlaksananya ubidiyah lillah iaitu manhaj allah ditegakkan dimuka bumi ini. Dalam konteks ini, dakwah kita adalah proses membina peradaban, projek ketamadunan (rujuk buku tulisan Dr Abd. Hamid al-Ghazali Haula Asasiyat Masruk Islami li Nahdatil al-Ummah).
Imam Al-Bana menggariskan agenda grand design dakwah kita di dalam risalah Ta’lim iaitu :
  1. Islahul nafs. ( membaiki diri )
  2. Takween Bait Muslim (membentuk keluarga Islam )
  3. Irsyadul Mujtamak. ( memimpin masyarakat )
  4. Tahrirul watan ( membebaskan negara )
  5. Islahul hukumah ( reformasi kerajaan )
  6. I’adah Al-kiyan ad-dauli ( mengembalikan eksistensi negara)
  7. Ustaziyatul alam ( mahaguru dunia )
Maka  dalam memastikan grand design dakwah kita berjaya, kita mesti melaksanakan grand strategy dakwah secara gerakan cultural dan structural. Miswan Thahadi menyatakan  gerakan cultural ialah penglibatan para da’ie ke pelbagai lapisan masyarakat dalam mentransformasi diri menuju suasana sosio-budaya yang islami. Ini bermakna para daie bergerak bersama masyarakat untuk terlibat membangun pelbagai aspek kehidupan:ekonomi,budaya,social,pendidikan dan sebagainya.Ini berlaku secara bottom-up.
Manakala strategi structural pula ialah  penyebaran para kader-kader dakwah ke dalam lembaga-lembaga legislative,eksekutif ,penggubalan polisi  dalam kerangka melayani, membangun dan memimpin umat melalui mekanisme konstitusional.Tujuannya ialah membangunkan system,membuat polisi-polisi dalam rangka taghyir ummah. Ini berlaku secara up-down. Kedua-dua strategi ini perlu mengepak kuat,saling berkomunikasi bagi mancapai visi  dan misi dakwah. Untuk memobalisasikan perkara ini , ia mesti dipelopori dan dipimpin oleh  gerakan Islam.
Pengalaman Ikhwan dalam melaksanakan strategi ini boleh dijadikan landasan kajian dalam tajuk irsyad mujtamak. Pengalaman muassis awal Syeikh Hasan al-Bana dalam membina binaan dakwah di Mesir sehingga dilanjut oleh para pimpinannya selepasnya sehingga IM menjadi satu arus kuat di dunia. Termasuk juga pengalaman penyertaan IM Jordan di dalam kerajaan, pengalaman tajammuk Islah di Yaman, begitu juga pengalaman terkini Hamas di Palestin sebagai satu kerajaan berdepan dengan Zionis Israel.
Hakikat Keempat : Tonggak-tonggak dakwah
Dakwah yang ingin kita bawa sepertimana yang ditegaskan oleh Imam Hasan al-Bana ialah menyeru kepada jalan allah, kepada  Islam yang tulen (islamiah somimah). Dalam risalah dakwatuna, al-Bana menyatakan bahawa dakwah kita ialah islamiah bi kulli maaaniha – Islam dengan sepenuh pengertiannya.Begitu juga katanya di dalam risalah Muktamar ke- 5 : “fikratul ikhwan muslimin tadhummu kulla maani islahiyyah” (fikrah ikhwan merangkumi seluruh maksud pengislahan).Dakwah kita ialah dakwah kepada islam yang syumul . ( rujuk rukun al-Fahm dalam usul 1- risalah Taalim ).
Dalam mengemudi dakwah, kita perlu memahami tonggak-tonggak dakwah atau pilat-pilar dakwah. Hasan al-Bana menyatakan bahawa “ sesungguhnya,kewajipan kita,di mana di tangan kita terdapat cahaya lentera dan ubat- adalah bangkit untuk membaiki dan mengajak orang lain menuju pembaikan. Jika berhasil, itulah keberhasilan yang sebenar-benarnya. Namun jika tidak, sesungguhnya kita sudah menyampaikan risalah dan melaksanakan amanah…cukuplah wujud mereka yang mahu memikul risalah dan melaksanakan tugas dakwah sebagai tonggak-tonggak keberhasilan. Dengan tonggak-tongak itu mereka yakin, mereka ikhlas dan dijalannya mereka jihad..”
Pilar-pilar dakwah (arkanud dakwah) ini dinyatakan dalam tiga kunci :
  1. Ilmu
  2. Tarbiyah
  3. Jihad
Ilmu : ilmu bagi seorang dai’e meliputi ilmu tentang maddatud dakwah ( tajuk & intipati dakwah), ilmu tentang manhaj dakwah dan ilmu tentang tabiatuddakwah.
Tarbiyah pula ialah wasilah menyiapkan para kader,aktivis,daie yang akan menjadi tulang belakang dakwah.Tarbiyah ialah proses merubah kognitif kepada aplikatif ( membentuk perilaku islami ). Tarbiyah ialah proses mengembangkan aspek kebaikan dan membuang aspek jahiliyah di dalam individu. Tarbiyah juga bermaksud pemeliharaan, penambahbaikan, pertumbuhan kebaikan, menjaga fitrah, mengembang bakat dan potensi, mengarah potensi ke arah kebaikan dan kesempurnaan dan secara bertahap. Tarbiyah adalah menyamai satu kepayahan dan kesulitan. Tarbiyah itu sifatnya integrasi dan komprehensif. Tarbiyah dalam kefahaman kita melahirkan rijal yang memiliki muwasofat 10, melaksanakan wajibat arkanul baiah dan mengimplimentasikan maani 10 rukun dalam kehidupan sehingga layak menjadi rijal dakwah
Rijal dalam pemahaman kita : “ inna zhuhurad din bi dhuhuri ummatihi, wa inna zhuhurar ummah bizhuhuri rijaliha, wa inna zhuhurar rijaliha bi zhuri aqidatihim wa fikratihim wa khuluqihim” . (sesungguhnya kebangkitan Deen itu dengan kebangkitan umatnya, kebangkitan umat pula dengan kelahiran rijalnya, dan sesungguhnya kebangkitan rijal-rijalnya dengan kebangkitan (baik) aqidah,fikrah dan akhlaknya ).
Sesungguhnya tarbiyah bukanlah segala-galanya tetapi segala-galanya tidak akan pernah jadi baik tanpa tarbiyah.
Jihad adalah bagian yang tidak boleh dipisahkan dengan dakwah dan tarbiyah. Hanya dengan jihad yang sebenarnya semua proses transformasi dan perubahan berjalan baik dan akan tercapai sasaran-sasaran dakwah. Al-Bana menyatakan “ tiada dakwah tanpa jihad dan tidak ada jihad tanpa pengorbanan”. Jihad ialah pencurahan seluruh tenaga dan upaya,seluruh potensi, seluruh jiwa dan raga untuk menegakkan kalimah allah di muka bumi. Jihad ini disantuni Nabi S.A.W di dalam sabdanya dengan maksud : “ barangsiapa yang mati, sedangkan dia tidak berjihad, atau tidak ada niat berjihad, maka dia mati dalam kemunafikan”. Dalam hadis lain ia mati sebagai mati jahiliyah.
Perkataan”yaqhzu” tidak terhad kepada perang fizik tetapi juga dalam konteks komtemporari telah meluas seperti perang media, perang siber, budaya, ekonomi dan sebagainya.
Jihad itulah menjadi slogan dakwah kita “ al-jihad sabiluna”. Jihad dalam mafhum yang luas meliputi jihad qital, jihad ta’limi, jihad ilmu, jihad siasi.Tanpa jihad maka hanya omong kosong dan mimpi di siang hari.Hanya sang daie mujahid mampu menjayakan agenda dakwah.Daie Mujahid membawa ruh jihad di mana-mana ia berada, di mimbar-mimbar masjid, mimbar – mimbar parlimen, di desa dan bandar , di ceruk rantau gunung ganang, di lembaga dan jabatan sehingga tumbuh pohon-pohon dan dahan-dahan dakwah. (boleh rujuk risalah Jihad al-Bana, syarah rukun Jihad / Zaadul Maad Ibnul Qayyim-bab Jihad / al- Jihad fil Islam – Muhammad Naim Yaasin atau Dr. Abdullah Qadiri al-Ahdal).
Hakikat Kelima : Dhawabit dan Qawaid Dakwah ( Prinsip & Kaedah )
Dakwah kita adalah dakwah yang bersumberkan al-Quran dan Hadis. Sudah tentu dakwah kita berdiri di atas satu prinsip yang jelas, rabbani dan tulen.Oleh itu, dakwah kita mesti terikat dengan prinsip syarak   ( dhawabit syarie ) – lihat buku dakwah islamiah faridhah syariyyah – Dr. Sodiq Amin).
Dalam berdakwah juga memerlukan kaedah sebagai mana kaedah-kaedah dalam usul fiqh atau Qawaid Fiqhiyyah.Ulama-ulama silam seperti As-Suyuti ( Al-Asybah wan Nadhoir ), al-Qarafi ( al-Furuq ) Majalah al-ahkam al-‘adliyyah  adalah buku-buku yang membicarakan perkara berkaitan Qawaid Fiqhiyyah. Tradisi ini dilanjut dan dikembangkan oleh ulama semasa seperti Dr. Fathi Duraini di dalam bukunya Manahij Usuliyyin ( Usul Fiqh ), Syeikh Mustafa Zarqa ,Ali Nadawi, Dr. Muhamad al-Burno  ( al-Qawaid al-Fiqhiyyah) dan lain-lain lagi. Dalam kontek dakwah, Dr, Jum’ah Amin, Dr. Hammam Saeed telah menulis buku berkaitan kaedah-kaedah  dalam fiqh dakwah.
Antara 10 kaedah fiqh dakwah Syeikh Juma’ah Amin ialah :
Kaedah 1 ; Al-qudwah qabla dakwah ( menjadi qudwah sebelum berdakwah )
Kaedah 2 : Ar-Ta’lif qabla ta’rif ( menjinak dan mengikat hati sebelum memperkenalkan )
Kaedah 3 : At-ta’rif qabla taklif (memperkenalkan sebelum member tugas )
Kaedah 4 : At-tadarruj fi taklif ( bertahap dalam memberikan tugasan )
Kaedah 5 : At-taisir la ta’sir ( memudah bukan memayah)
Kaedah 6 : Al-Usul qabla furu’ ( memulakan yang pokok sebelum cabang )
Kaedah 7 : At-targhib qabla tarhib ( member harapan bukan ancaman)
Kaedah 8 : At-tafhim la al-talqin ( memberi kefahaman bukan menyampaikan semata-mata)
Kaedah 9 : at-tarbiyah la at-ta’riyah ( pendidikan bukan menelanjangi keburukan)
Kaedah 10 : Tilmizu imam la tilmiz kitab ( murid kepada guru bukan murid kepada buku)
Manakala Dr. Hammam Abd. Rahim Saeed di dalam bukunya ( Qawaid Dakwah ilallah ) pula menulis dengan pendekatan motivasi dan memberikan dorongan semangat agar para da’ie sentiasa optimistik dalam memberikan  al’atho ad-da’wi ( sumbangan dakwah ).Kaedah-kaedah ini digali dari asas-asas syarak dan seerah nabawiyah, kisah para sahabat dan salafussolih. Ia  memberikan ledakan baru dalam memperkayakan fiqh dakwah. Antara kaedah-kaedah yang dinyatakan di dalam bukunya :
Kaedah 1 : Dakwah di jalan allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akhirat
Kaedah 2 : Semoga dengan usaha kamu seseorang memperolehi hidayah lebih baik dari unta merah
Kaedah 3 : Pahala diperolehi semata-mata dengan berdakwah dan tidak dikira  dengan penerimaan manusia
Kaedah 4: Daie hendaklah menjadi   sebagai mubaligh ( penyampai dakwah) dan berusaha mencapai
al-balagh. ( kepetahan & kefasihan dalam berdakwah )
Kaedah 5 : Da’ie memberikan segala usaha dakwah demi menuntut ganjaran rabbani
Kaedah 6 : Dai’e adalah cermin bagi dakwah  dan modelnya.
Kaedah 7 : Berbicaralah dengan manusia menurut kadar pemikiran mereka
Kaedah 8 : Ujian adalah sunnatullah
Kaedah 9 : Lapangan dakwah adalah luas , hendaklah dai’e memilih yang sesuai untuk dakwahnya
Kaedah 10 : Masa adalah unsur penting  dan kejayaan dakwah
Kaedah 11 : Dakwah adalah seni dan kepemimpinan, perancangan dan pemantauan.
Kaedah 12 : Dakwah merupakan satu tasawwur besar Jihad dari segi matlamat dan kesan
Kaedah 13: Dakwah adalah perniagaan  mulia ,tidak boleh dijual dengan habuan dunia, habuan dunia merosakkan maruah sang Dai’e .
Kaedah 14 : Mengenalai mad’u faktor utama mempengaruhinya
Kaedah 15 : Komtemporari, memahami kondisi umum adalah sebab-sebab kejayaan dakwah.
Kaedah 16 : Perpecahan, fitnah, uzlah dan jamaah..halangan di jalan dakwah
Kaedah 17 : Kefahaman yang betul adalah jalan amal yang betul
Kaedah 18 : Kefahaman yang memandu dan kefahaman yang wajib
Kaedah 19 : Menyeru kepada makruf dan mencegah kemungkuran merupakan kefardhuan umat
Kaedah 20 : Menyalahi maksud dan tujuan al-Quran lebih bahaya dari meninggal dan mengabaikan  al-Quran
Kaedah 21 : Amal umum adalah asas amal khusus sebagai penarik dokongan dakwah.
Kaedah-kaedah adalah sebahagian dari maksud Quantum dakwah dan Tarbiyah. Kaedah-kaedah ini akan memberikan energi baru dalam mengaplikasikan dakwah.Ia pasti menjadikan dakwah asyik, mengghairahkan dan menarik minat mad’u serta membentuk wilayah pengaruh (region of influence).Saya akan membicarakan pada sesi seterusya.
Mari kita renungi ungkapan Imam Hasan al- Bana :
“ Hazihi dakwah la yasluh laha illa man ahaathoha min kulli jawanibiha..”
Dakwah ini tidak akan sesuai dan serasi kecuali dengan orang yang memahami dan menguasai dakwah dari segala aspeknya.Mana mungkin orang yang tidak memiliki apa-apa mampu memberi dan menyumbang pada orang lain bak kata pepatah “ Faqidus syai la ‘yukti” ( orang yang tiada apa-apa,tidak akan memberi..)
Wahai umat islam mari jadikan hari ini dan hari esok mu dengan satu kata yang mulia ialah dakwah..jangan mundur dalam perjalanan dakwah..jangan mudah pasrah dan lelah…Karena kita semua penerus risalah dakwah.
Ditulis oleh : Chandra

Keistimewaan Waktu Ashar


4newstimes.com - Waktu adalah kehidupan. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktu, maka ia telah menyia-nyiakan kehidupan, demikian Imam Hasan Al Banna menasehatkan. Allah Sang Maha Pencipta telah membagi waktu menjadi beberapa bagian. Dimana kesemuanya itu, harus dimanfaatkan dengan beramal sholih sehingga memberi manfaat kepada kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Bagian-bagian waktu tersebut merupakan sesuatu yang saling terkait. Pagi dan siang, sore dan malam. Masing-masing mereka telah Allah berikan kekhasan dan keutamaannya. Saling melengkapi dan harus dikombinasikan.

Pagi adalah sarana yang Allah ciptakan untuk mengumpulkan bekal dalam menjalani kehidupan di siang hari. Di sana ada terminal-terminal pengisian bahan bakar ruhani. Ada tahajud, dzikir, shalat sunnah fajar, subuh berjama’ah, tilawah Al Qur’an, shalat dhuha dan aneka ibadah lain yang disyari’atkan. Pemanfaatan waktu kita di pagi hari merupakan penentu sukses dan tidaknya kita di sepanjang hari itu.

Begitupun dengan sore hari. Ia merupakan sarana untuk menghimpun kekuatan guna menjalani malam yang penuh dengan makar, tipu daya dan juga godaan setan, baik dari golongan jin maupun manusia.

Di dalam rangkaian sore hari itu, terdapat waktu Ashar. Ia terletak di ujung sore. Dimana ketika itu, tenaga, pikir dan jiwa kita sedang berada di ambang batas. Energi kita nyaris habis. Belum lagi dengan setumpuk amanah yang belum selesai. Tugas kantor, tugas kuliah, ataupun tugas kita sebagai hamba Allah. Maka di waktu ini, banyak dari kita yang lalai sehingga terpedaya oleh setan. Muaranya, banyak dari kita yang terjerumus dalam lubang kebinasaan lantaran mengabaikan waktu Ashar ini.

Hal ini sebagaimana terjadi pada sebagian kaum Quraisy yang sering mengabiskan waktu Ashar untuk bercerita tanpa arah yang jelas. Cerita mereka bermuatan gunjingan, celaan dan hinaan kepada sesamanya. Ujungnya, mereka mencela waktu Ashar sebagai waktu yang celaka. Hal ini sebagaimana diungkap oleh HAMKA dalam menafsirkan surah Al Ashr ayat 1. 

Ashar banyak menyimpan keutamaan. Rasul menyebutkan bahwa waktu Ashar adalah salah satu tiket untuk memasuki surga. Sabda beliau, “Barangsiapa melaksanakan shalat Bardain (Subuh dan Ashar) maka dia akan masuk surga” (HR Bukhari). Dalam hadits lain disebutkan, “Dari jarir RA, dia berkata : Suatu ketika kami bersama Nabi SAW kemudian pada suatu malam beliau melihat bulan purnama. Beliau bersabda, “Kalian kelak akan melihat Tuhan sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, tanpa ada sesuatu yang menghalangi penglihatan kalian. Karena itu, jangan sampai kalian lewatkan shalat sebelum matahari terbit (Subuh) dan shalat sebelum matahari terbenam (Ashar).” Kemudian beliau membaca ayat 39 surah Qaf, “Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (HR Bukhari No 554).

Oleh karena pentingnya waktu Ashar ini, Allah berfirman, “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wusthaa” (Al Baqarah : 238). Yang dimaksud dengan shalat wusthaa, menurut jumhur ulama’ adalah Shalat di waktu Ashar. Sabda Rasulullah, “Mereka (orang kafir) telah menghambat kita dari melakukan shalat Wustha, yaitu shalat Ashar. Mudah-mudahan Allah memenuhi hati dan rumah mereka dengan api.” (HR Muslim)

Hadits di atas merupakan sebuah sinyal betapa pentingnya shalat Ashar dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan, Rasulullah yang terbukti dengan kemurahan dan kemuliaan budi pekertinyapun mendoakan kaum kafir dengan kalimat laknat karena mereka menyebabkan beliau dan para sahabat tertinggal melakukan shalat Ashar ketika perang Khandaq.

Senada dengan ayat dan hadits di atas, dalam beberapa riwayat lain Rasulullah juga menyebutkan tentang konsekuensi negatif bagi siapa saja yang meninggalkan atau melewatkan waktu Ashar dengan sengaja.

Bahkan, mereka yang kehilangan shalat di waktu Ashar, dikatakan oleh Rasulullah dengan kehilangan harta, keluarga dan semua amal sholihnya. Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah bersabda, “Orang yang kehilangan shalat Ashar bagaikan orang yang kehilangan keluarga dan harta kekayaannya.” (HR Bukhari No. 552). Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Dari Buraidah, bahwa dia mengatakan kepada kaum muslimin ketika cuaca berawan, karena Nabi SAW pernah bersabda, “Orang yang meninggalkan shalat Ashar hilanglah semua amal baiknya.” (HR Bukhari No. 553).

Dari penjelasan di atas, tidaklah heran jika Rasulullah memerintahkan kepada seluruh umatnya untuk mengisi waktu Ashar dengan memperbanyak doa dan dzikir. Keduanya merupakan sarana yang sengaja Allah ciptakan agar kita senantiasa terbentengi dari kejahatan setan yang terus menerus menabuh genderang perangnya. Agar kita tetap bersiap siaga ketika waktu ashar, meski ketika itu fisik dan pikiran kita berada dalam keadaan malas lantaran seharian bekerja.

Akhirnya, kita harus selalu waspada terhadap godaan yang terus membisiki. Khususnya godaan yang datang di waktu Ashar. Baik berup malas, bersedih hati, ataupun godaan lain. Karena sejatinya, berhasil dan tidaknya kita memanfaatkan waktu Ashar akan berpengaruh dalam kehidupan kita di malam harinya.

Mereka yang berhasil mengisi waktu Ashar dengan munajat kepada Allah, maka malamnya akan dilimpahi keberkahan. Ia akan selalu bersegera dalam beramal sholih, hingga puncaknya mereka bisa bangun di sepertiga malam untuk tahajud, tilawah dan melaksanakan shalat subuh berjamah. Sehingga mereka akan menjadi generasi islam yang unggul, yang bergegas menyongsong akhirat di pagi hari dan terus bertebaran memakmurkan bumi hingga senja menyapa.

Redaktur : Gilang Ramadhan
Sumber : Bersama dakwah.com

Cinta Tanah Air, Sebagian dari Iman ? Masa !!!


4newstimes.com - حُبُّ اْلوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”
hadist ini adalah hadist maudhu’ sebagaimana disebutkan dalam kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Al-Bany Hadits ke 36. Edisi terjemahan, Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu jilid-1, cetakan Gema Insani Press. Imam Jalaluddin as-Suyuthi juga menjelaskan bahwa hadist ini derajadnya tidak diketahui [ad-Durar al-Muntatsirah Fii al-Ahaadiits al-Musytahirah karya imam Jalaluddin as-Suyuthi, tahqiq Syaikh Muhammad Luthfi ash-Shabbagh, hal.110, no.190]


Banyak orang yang memakai hadist maudhu’ ini untuk memompa rasa patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia. Dengan keyakinan bahwa hadis ini datang dari Rasulullah , ummat islam banyak yang membela mati-matian batas-batas negerinya tanpa memperdulikan diatas aturan apa negeri tersebut dibangun.
Jika negeri tersebut dibangun atas dasar islam dan berusaha menerapkan syari’at islam disetiap lininya, maka wajib bagi ummat islam untuk membelanya. Akan tetapi jika negeri tersebut dibangun bukan diatas syari’at islam, melainkan syari’at kekufuran, maka bagi seorang muslim haram membela peperangan tersebut, karena peperangan yang tidak dijalan Allah adalah dijalan toghut. Di dunia ini hanya ada dua jalan, sabilullah dan sabilut toghut, tidak ada jalan yang ketiga. Allah Ta’ala berfirman :
الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا


Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. [ an Nisa’ : 76 ].
Ibnu Katsir menjelaskan : Orang-orang yang beriman berperang dalam ketaatan pada Allah dan keridhoan-Nya, dan orang-orang kafir berperang dalam ketaatan pada syetan. [ tafsir Ibnu Katsir ayat 76 ].


Jelaslah disini, jika seseorang cinta tanah air secara membabibuta, ia serahkan jiwa dan raga serta berperang karenanya tanpa berfikir pada kelompok manakah ia berperang, maka ia hanya akan dimanfaatkan setan untuk mengutkan kelompoknya.
Cinta tanah air Islam
Islam mengajarkan pada kita bahwa setiap bumi yang dikuasai ummat islam dan diterapkan syari’at islam adalah negeri islam. Dimanapun dan kapanpun berada. Tidak dibatasi warna kulit dan suku. Atau juga dibatasi oleh petak-petak tanah yang ditentukan oleh manusia. Dan jika ada sebuah syari’at islam diterapkan di negeri Islam kemudian diserang oleh musuh-musuh islam, wajib bagi ummatnya untuk membelanya. Dimulai dari yang terdekat yaitu rakyatnya, dan jika tidak mampu kewajiban tersebut meluas pada seluruh ummat islam di dunia. Ibnu Taimiyah berkata :
فَالْعَدُوُّ الصَائِلُ الذِي يُفْسِدُ الدِيْنَ وَالدُّنْيَا لاَ شَيْءَ أَوْجَبُ بَعْدَ الْإِيْمَانِ مِنْ دَفْعِهِ
Musuh yang menyerang yang merusak din dan dunia (ummat islam) tidak ada yang lebih wajib setelah iman kecuali menolaknya. [ Majmu’ fatawa 4/608 ]


Bahkan empat imam madzhab sepakat jika musuh masuk negeri Islam tidak ada lagi ijin bagi seorang yang berhutang kepada yang dihutangi, anak kepada orang tuanya, istri kepada suaminya karena jihad pada waktu tersebut fardhu ‘ain.
Hari ini, ketika bumi-bumi Islam dirampas oleh orang-orang kafir karena menerapkan syari’at Islam, wajib bagi setiap muslim untuk membelanya dengan berbagai kemampuan yang dimiliki. Lihatlah, bagaimana orang-orang Israel telah menjajah Palestina, Amerika dan sekutunya memerangi Afganistan dan Iraq, serta yang terbaru adalah merampas kembali Lembah swat dari kaum muslimin, maka wajib bagi kaum muslimin untuk membantu mereka. Jika masalahnya ketidakmampuan kita untuk pergi kesana, maka dengan harta atau minimal dengan do’a-do’a kita.


Ibnu Taimiyah berkata :
إِذَا دَخَلَ العَدُوُّ بِلاَدَ الْإِسْلاَمِ فَلاَ رَيْبَ أَنَّهُ يَجِبُ دَفْعُهُ عَلَى الْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَب، إِذْ بِلاَدُ الْإِسْلاَمِِ كُلُّهَا بِمَنْزِلَةِ البَلْدَةِ الْوَاحِدَةِ، وَأَنَّهُ يَجِبُ النَفِيْرُ اِلَيْهِ بِلاَ إِذْنِ وَالِدٌ وَلاَ غَرِيْمٌ
Jika musuh telah masuk negeri Islam, maka tidak diragukan lagi wajib untuk menolaknya dimulai dari yang dekat. Karena semua negeri Islam kedudukannya sebagaimana satu negeri. Dan bahwasanya wajib untuk pergi kemedan jihad tanpa izin orang tua,orang hutang pada yang dihutangi. [ Majmu’ fatawa 4/608 ].


Inilah yang disebut cinta tanah air Islam. Yaitu dengan membelanya jika diserang, membangun negerinya dengan amar ma’ruf dan nahyu munkar, serta selalu menasehati pemimpinnya jika menjauh dari syari’at islam. Jadi standartnya bukan sebuah isme tertentu, dengan menuduh orang yang tidak cocok dianggap tidak cinta tanah air, jelas ini adalah pemikiran picik. Akan tetapi standartnya adalah syari’at Islam.
Siapa yang cinta dan perusak tanah air
Kalau kita perhatikan di sekeliling kita justru yang merusak tanah air sebenarnya orang-orang yang menggembar – gemborkan paham nasionalis. Yaitu mereka yang menyatakan dirinya sebagai pembela tanah air, pembela persatuan dan kesatuan. Bukankah kesyirikan dan kemaksiatan, kasus korupsi, proyek pembabatan hutan, pencemaran lingkungan, penindasan, kesewenang-wenangan dan yang lainnya dilakukan oleh mahluk yang menamakan dirinya nasionalis?, yang tiap tanggal 17 agustus khidmat merayakan hari kemerdekaan. Politikus yang gigih membela paham cinta tanah air. Padahal cinta tanah air tanpa didasari ilmu yang benar hanya akan menimbulkan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ QS. Ar Ruum : 41 ]


Imam At Tobari menjelaskan : Telah nampak kemaksiatan dimuka bumi dan lautnya disebabkan tangan manusia melanggar apa yang telah Allah larang darinya. [ Tafsir At Tobari pada ayat tersebut ].
Maka jelaslah, mereka bukan pencinta tanah air tetapi pecinta sistem yang berlaku pada tanah air tersebut.. Karena sistem yang mereka cintai memeberikan keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan hukum yang berpihak pada kerakusan. Dengan penegak-penegak hukum yang bisa disogok. Mereka menyerukan pada rakyat untuk mencintai negeri ataupun negara dengan paham nasionalismenya, menyerukan persatuan, sampai menyebarkan hadis palsu. Tujuannya bukan kesejahteraan dan keadilan rakyat tapi keuntungan pribadi, kelompok atau golongan. Nasionalisme hanya dijadikan alat saja.
Sementara itu penegak-penegak syariat Islam dianggap sebagai perusak, pemecah persatuan, pengacau dll. Padahal menegakan syariat adalah refleksi dari cinta kepada Allah sekaligus refleksi rasa cinta pada manusia. Manusia sebagai mahluk yang bermartabat tidak boleh ditindas, dizahalimi. Manusia harus diselamatkan baik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Juga refleksi dari cinta pada bumi tempat berpijak agar terpelihara dari kerusakan dan azab Allah. Allah sebutkan mereka itu dalam alqur’an
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (*) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [ QS. Al Baqarah : 11-12].


Yang dimaksud kerusakan disini, ditafsirkan oleh Ibnu katsir dengan kekufuran dan perbuatan maksiat. Maka alasan orang-orang nasionalis untuk menyejahterakan Indonesia dengan melanggengakan berbagai kekufuran, kesyririkan dan kemaksiatan melalui dinas pariwisata dan yang lainnya, jelas tidak akan menjadi baik. Bahkan sebaliknya akan bertambah sengsara karena mereka telah melanggar aturan-aturan Allah Ta’ala.
Manusia diturunkan ke muka bumi untuk menjadi Khalifah, ia wajib menjadi pengatur dan pengelola bumi. Setiap muslim di manapun tinggal di bumi ini harus menunjukkan cintanya pada bumi tempat mereka berpinjak. Cinta pada tanah air tidak identik dengan acara cium mencium bendera atau upacara bendera. Tetapi harus dibuktikan dengan kerja nyata. Dalam kehidupan sehari-hari muslim yang mencintai tanah air akan selalu menjaga lingkungannya baik di darat, di laut maupun udara dari keruksakan. Ajaran Islam melarang umatnya untuk merusak hidup dan kehidupan.
Cinta tanah air Indonesia bukan dengan selalu melantunkan nyanyian “padamu negeri” atau “indonesia raya” dan yang lainnya. Atau dengan memeriahkan peringatan 17 Agustus yang kadang bertentangan dengan syari’at Islam. Atau dengan menangis-nangis saat pengibaran bendera merah putih. Tetapi cinta tanah air hanya dengan mengembalikan aturan hidup pada aturan Allah Ta’ala saja. Dengannya perdamain, keadilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan pasti akan terwujud. Tanpanya hanya akan terjadi kesengsaraan yang tak pernah ada ujungnya.

Redaktur : Gilang Ramadhan
Sumber : 
-Tafsir At Tobari
- Majmu’ fatawa 4/608
-kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. client-news - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger